Hari ini :
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Pemeringkatan Koperasi Berkualitas Belum Berdampak Pada Kemudahan Akses

Program pemeringkatan koperasi berkualitas diakui belum berdampak langsung pada kemudahan akses koperasi yang bersangkutan terhadap pembiayaan perbankan.

"Itulah tantangan Kementerian Negara Koperasi dan UKM ke depan untuk merancang sedemikian rupa indikator yang harus dipenuhi untuk menjadi koperasi berkualitas," kataAsisten Deputi Urusan Tata Laksana Koperasi dan UKM Bidang Kelembagaan Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Nur Ediningsih, di Jakarta.

Pihaknya mengakui selama ini program pemeringkatan koperasi belum mampu memberikan kemudahan kepada koperasi untuk mengakses pembiayaan perbankan. Menurut dia, pemeringkatan koperasi sampai saat ini hanya bermanfaat untuk melihat sejauh mana perkembangan koperasi yang ada di Indonesia.

"Pada dasarnya koperasi itu basisnya lebih senang mencari modal secara swadaya dan mandiri, jadi modal dari mereka sendiri," katanya.

Ia mengatakan, memang menjadi persoalan tersendiri dalam kaitannya dengan perbankan.

Hal itu karena perbankan memiliki ketentuan khusus yang tidak bisa diutak-atik termasuk anutan sistem pruden. Ia berpendapat, perbankan juga memungut bunga tinggi sehingga relatif tidak ekonomis untuk koperasi.

Program pemeringkatan koperasi berkualitas sudah dilakukan sejak 2004. Upaya tersebut mencakup penilaian kinerja koperasi yang dilakukan oleh lembaga independen.

"Indikator penilaian ada 30 poin di antaranya badan usaha aktif, kinerja sehat, kohesivitas tinggi, partisipasi ekonomi anggota, pelayanan, dan kepedulian terhadap anggota," katanya.

Tahun ini pihaknya menganggarkan dana Rp10 miliar untuk dapat memeringkat setidaknya 12.000 koperasi di seluruh Indonesia. Hingga 2009 ditargetkan sebanyak 70 ribu koperasi di Indonesia berhasil diperingkatkan sesuai klasifikasinya.

"Sampai 2008 sudah sebanyak 42.267 koperasi atau baru 60 persen," katanya.

Ia mengaku sulit untuk mewujudkan target 70 ribu koperasi terperingkatkan namun setidaknya bertambah 11 ribu dari 42.267 koperasi yang sudah berperingkat. "Jadi sampai akhir 2009, kami menargetkan 76 persen dari target sudah terlaksana," katanya. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)

Read On 0 komentar

Pelaku UMKM Perlu Sadar Teknologi

Menggunakan teknologi sangat membantu pengembangan usaha, terutama dalam menekan pos-pos pengeluaran.

Masihkah Anda ingat dengan Muhammad Yunus, ekonom dan bankir asal Bangladesh, yang menjadi pemenang Nobel Perdamaian pada 2006 lalu? Komite Nobel menyerahkan penghargaan bergengsi tersebut kepadanya karena pertimbangan bahwa ia banyak membantu memberdayakan penduduk miskin di negerinya dengan memberikan pinjaman lunak.

Komite yang berpusat di Norwegia itu memandang tindakan Muhammad Yunus merupakan langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang selama ini menjadi sumber dari banyak perselisihan. Dengan mendirikan Grameen Bank, Yunus membuat model ekonomi yang menyediakan akses kepada kaum miskin untuk mengakses pinjaman ke bank untuk digunakan sebagai modal usaha.

Yunus memprioritaskan kepada kaum wanita yang selama ini kerap rentan terhadap kekerasan dan orang-orang termiskin yang tidak memiliki lahan. Hasilnya, kaum miskin memperoleh akses pinjaman modal dengan mudah dan produktivitas masyarakat meningkat.

Peranan sektor ekonomi kreatif dalam menjadi penggerak sistem perekonomian negara tidak hanya terjadi di Bangladesh tapi juga di Indonesia.

Istilah ekonomi kreatif pertama kali didengungkan tokoh bernama John Howkins, penulis buku Creative Economy, How People Make Money from Ideas. Selain sebagai pembuat film dari Inggris, ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintah Inggris sehingga banyak berpartisipasi dalam diskusi-diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif di kalangan pemerintahan negara-negara Eropa.

UKM di Indonesia

Peranan sektor ekonomi usaha kreatif melalui usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam perekonomian Indonesia semakin menunjukkan peranan nyata setelah mampu bertahan dalam hempasan badai krisis ekonomi tahun 1998. Di tengah maraknya berbagai lembaga pembiayaan, khususnya bank yang mengalami likuidasi karena kredit macet, sektor usaha ekonomi mikro justru mampu bertahan dan turut menggerakkan perekonomian rakyat.

Peran sektor UMKM dalam menyerap tenaga kerja juga sangat signifikan. Selama 2004, sektor UMKM mampu menyerap hampir 97 persen tenaga kerja yang tersedia.

Pada 2009, pertumbuhan UMKM diprediksi mencapai 10 persen. Kondisi ini disebabkan oleh tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis keuangan global yang membuat para pekerja beralih profesi menjadi wirausahawan dengan mendirikan UMKM.

Menurut Setiawan Sudarmaji, general managerBisnis Mikro PT Bank Bukopin Tbk, SDM berkualitas baik berperan sebagai faktor utama keberhasilan mengembangkan usaha di sektor UMKM.

Berdasarkan tingkat pendidikannya, jumlah populasi di Indonesia yang mampu memperoleh gelar sarjana hanya sekitar tiga persen saja. ‘’Selebihnya merupakan lulusan sekolah menengah atas atau bahkan lebih rendah lagi. Masyarakat dengan pendidikan minim sangat berpotensi untuk bekerja di sektor UMKM karena itu memerlukan pengembangan kemampuan yang lebih baik lagi,’‘ paparnya.

Membekali para pengusaha UMKM dengan kemampuan Bahasa Inggris, komputer, dan administrasi yang baik akan mampu meningkatkan kulitas SDM pada sektor ekonomi ini.

Senada dengan Setiawan, Direktur PT Zahir Internasional, Jakarta, Muhamad Ismail mengemukakan, kualitas SDM menjadi salah satu poin terpenting dalam pengembangan dan pengelolaan usaha di sektor ekonomi riil. ‘’Saat ini masih banyak sekali para pengusaha UKM di Indonesia yang belum menyadari pentingnya penguasaan informasi teknologi,’‘ ujarnya.

Di Indonesia, pengguna internet saat ini mencapai 25 juta orang. Dengan 40 juta pengusaha UKM di Indonesia, hanya sedikit sekali pengusaha UKM yang menguasai internet. ‘’Dari seluruh pengguna internet yang 25 juta tersebut, dipotong para golongan pengusaha dan kalangan terpelajar maka pengguna internet dari sektor pengusaha UKM lebih sedikit lagi,’‘ papar Ismail.

Menurutnya, penggunaan teknologi sangat membantu pengembangan usaha, terutama dalam menekan pos pengeluaran. Dengan membeli softwareseharga Rp 1 juta dan komputer seharga Rp 3 juta, misalnya, apabila dibagi biaya yang diperlukan dengan jangka waktu 12 bulan, akan lebih murah dibandingkan dengan menggaji karyawan untuk melakukan pembukuan selama satu tahun.

‘’Katakanlah menggaji karyawan untuk melakukan pembukuan Rp 1 juta per bulan. Maka biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih mahal. Selain itu, teknologi juga sangat berperan untuk pemasaran. Promosi melalui internet jauh lebih murah dibandingkan biaya pencetakan brosur atau pamflet,’‘ papar Ismail yang sudah bekerja di PT Zahir Internasional sejak 2004.

Pada negara-negara lain, pengembangan kualitas SDM untuk mengelola UMKM sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan Indonesia. Pemerintah mereka mendukung terjadinya penetrasi teknologi kepada para pengusaha UMKM sehingga mereka ‘melek’ teknologi.

‘’Di Malaysia, misalnya, mereka memiliki program konkrit untuk memberikan akses internet murah kepada seluruh masyarakat. Selain itu, program wajib menggunakan piranti lunak juga banyak dilakukan di berbagai perusahaan di sana,’‘ ungkap Ismail.

Untuk saat ini Indonesia masih jauh menuju ke sana. Padahal, teknologi merupakan salah satu faktor penting untuk bersaing di dunia dan sangat membantu daya saing pengusaha Indonesia.

‘’Tanpa penguasaan teknologi, para pengusaha akan sulit bersaing dan bukan tidak mungkin kehilangan berbagai peluang,’‘ tutur Ismail. ci2 (republika.co.id)




Read On 0 komentar

Microfin Luncurkan Software Untuk UKM

Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) identik dengan masih kurangnya kesadaran untuk menjalankan pembukuan dengan baik dalam dunia bisnis. Sebagian besar dari mereka menjalankan bisnisnya sendiri. Dengan kurangnya pengetahuan dalam pembukuan otomatis menghambat mereka menjalankan kegiatan pembukuan keuangan. Sementara minimnya pengetahuan pebisnis UKM dalam pembukuan juga seringkali tidak disertai dengan pemenuhan sumberdaya untuk menjalankan kegiatan akuntansi bisnis.

Kesadaran akan pentingnya pembukuan justru sering timbul ketika menghadapi persaingan dengan institusi atau pihak lain yang mensyaratkan adanya laporan keuangan atau istilah modernnya akuntansi, untuk kegiatan tertentu. Misalnya untuk kepentingan meminjam modal ke bank, atau keperluan tender.

Jika dibandingkan dengan Malaysia, kesadaran untuk mengadopsi pembukuan keuangan di kalangan pelaku UKM di sana lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Padahal, sambungnya, saat ini pelaku UKM dipermudah oleh tawaran software (perangkat lunak) akuntansi yang mudah pemakaiannya dan memang dikhususkan untuk kalangan UKM.

Kini telah hadir software akuntansi bagi pebisnis UKM. Kelebihan yang ditawarkan, produk ini diantaranya mempermudah penggunanya karena tidak membutuhkan pengetahuan khusus di bidang akuntansi. Hanya dengan memasukkan data yang diminta, selanjutnya keluaran dalam bentuk laporan keuangan otomatis akan terbentuk.

Microfin yang menangani pemberdayaan koperasi dan UKM di Jawa Timur saat ini, Akan berupaya membantu pebisnis UKM agar mampu meningkatkan penjualannya dengan pemasagan IT. Adapun Software akuntansi bagi kalangan UKM ditawarkan dengan harga mulai Rp. 2 juta. (Ajay)





Read On 0 komentar

Strategi Funding dan Lending pada KJKS

Dalam rangka untuk meningkakan kapasitas Account Officer KJKS di Jawa Timur, akhir Pebruari lalu, Microfin Surabaya mengadakan “Pelatihan Account Officer” pada 27 Pebruari 1 Maret 2009 di Pondok Claket Indah, Mojokerto. Tak kurang 50 peserta perwakilan KJKS mengikuti pelatihan dengan antusias.

Dengan dipandu oleh trainer tingkat nasional yaitu, Iwan Setiawan (Direktur PT. Microfin Indonesia), Nasrudin (Manajer Pendampingan PT. Microfin Indonesia ), dan Hamy Wahyunianto (Direktur KPI/Ketua Forum Zakat Nasional). Menariknya, semua trainer tidak hanya memberikan konsep teoritis tapi juga memberikan kiat pengalaman di lapangan.

Pelatihan ini dibagi menjadi 4 session materi yaitu : Peran dan fungsi AO, Strategi Funding, Kiat Lending yang Aman, dan Karakterisktik Nasabah KJKS. Sedangkan di hari yang terakhir, peserta diberikan materi outbond untuk membangun kerjasama dan kepemimpinan dalam tim. (Ajy)




Read On 0 komentar
 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2008